Jumat, 03 Agustus 2012

OTAK KANAN (III)

Selain masakan yang enak di warung makan ini, tempatnya yang cozy menjadi alasan  pengunjung  betah berlama-lama nongkrong disini, ornamen-ornamen kayu yang khas, tempatnya yang cukup  luas  kerap acara ngumpul keluarga.
Dua piring nasi goreng disajikan di meja coklat tempat kami duduk, minyak nasi goreng  berkilau, tampak lezat. Tak lupa, tumpukan kerupuk renyah menggoda untuk segera  disantap. Tanpa basa-basi, Bening langsung melahap layaknya korban kelaparan di  Biavra. Aku hanya melihat nasi goreng itu, tak nafsu. Sesuatu masih berkecamuk di  pikiranku. Semua organ-organku seolah mati rasa, hanya karena memikirkan satu hal itu.
Malam ini juga aku harus menyatakan perasaanku.

"Ning, aku boleh ngomong sesuatu gak sama kamu, 2 menit aja, gak lama."
Bening asyik memamah nasi gorengnya, lalu menelannya. "Apa?" Bening lalu memasukan  sesendok penuh nasi. "Jangan-jangan gak bawa duit ya buat bayar entar ?" Diambilnya  krupuk, dimakannya. "Tenang aja Co, santai kayak di pantai."
"Bukan itu, hadewww," aku ikut-ikutan mengambil kerupuk.
"Twerusss?" mulut Bening penuh nasi goreng, ucapnya jadi tak jelas.
Aku ambil nafas, meneguk es jerukku. "Gini, dari kemaren kita selalu melewati hal-hal  konyol, tak terduga, aku ingin..."
Ucapanku terputus seketika, ponsel Bening berdering keras. Bening melihat layar  ponselnya, diletakkannya lagi di meja . Lama telepon itu berhenti berdering.
"Kok gak diangkat?" lanjutku.
Air muka Bening berubah drastis, pucat. "mm males ah, gak tahu orang lagi enak-enak  makan juga."
Suara ringtone ponsel Bening berkali-kali berbunyi, seakan jadi backsound makan malam  kami. Bening membiarkannya, tak diangkat ataupun di-reject-nya.
Saat hampir memakan sendok terakhir nasi gorengku, ponsel Bening kembali berdering,  kali ini Bening mengambil HP yang sedari tadi mangkrak di meja.
"Aku permisi ke belakang dulu ya, Co" seraya mengangkat telpon dan pergi.


Hampir 10 menit, aku duduk termangu sendiri, Bening kembali, kakinya melangkah pelan,  matanya sayu, seperti habis menangis. duduk lemah tak berdaya.
"Siapa ? masa lalumu lagi ya ?" tanyaku pelan.
Bening menunduk lemas. Kali ini dia tampak seperti penderita anemia ataupun seorang  yang habis ketemu setan kredit. "Dia memohon lagi Co, dia gak rela kalau  kehilanganku lagi. Padahal dulu kita sudah sepakat, walau pisahnya tidak baik,"  Bening meneteskan air mata.
"Dia sebenarnya baik, hanya overprotective aja, sedikit kok," Bening tampak  membelanya.
Kutatap mata coklatnya sambil memegang kedua tangannya yang terlipat. "Kamu masih  sayang sama dia ?" suaraku bergetar.
Bening tak menjawab, hanya memberikan tatapan mata yang berkaca-kaca.

Sangat dalam kulihat kedua bola mata coklatnya, sepasang mata yang mampu menggambarkan masa depan. Sehabis menatap matanya, aku selalu bisa melihat masa depanku, masa depannya,  masa depan kita berdua.
Aku berimajinasi jauh ke depan setelah menatapnya. Dimana khayalanku  melihat kebahagiaan sejati ada dan tinggal di sinar matanya. Kebahagian yang kami  ciptakan sendiri, dengan cara kita sendiri. Bermimpi bahwa Beninglah separuh jiwaku,  membayangkan aku dan Bening menghabiskan hidup bersamanya, sampai memutih rambut.
Sedari kemarin dan kemarin lusa, otak kananku menumbuhkan impian khayalan, dimana  kita berdua bersama, Bintang dan Bening, selamanya.
Imajinasiku semakin liar, membayangkan aku dan dia melewati petualangan hidup  bersama, menaklukan alam liar bersama, berbaring di pasir putih sembari menikmati  matahari sore. Hidup kami menjadi indah.

Otak kananku menjadi tak terkontrol, apakah ini efek nasi goreng yang aku makan ?

Gempuran khayalan tak terbendung. Di masa depan, kita adalah pendaki handal, penakluk  alam, menginjakkan kaki di Puncak Mahameru. Bersama mewujudkan Impian super kita  berdua, camping di Bulan. Di masa yang akan datang, di pancaran mata Bening, aku melihat  kita tinggal di rumah mungil nan bersih, dengan pekarangan yang luas. Anak-anak kita  yang masih kecil, Elena si sulung dan si bungsu Sunshine bermain lepas di bawah pohon  mangga. ya, kita adalah keluarga yang bersinar, seperti mata coklatmu.

"Apa yang harus aku lakukan, Co. aku bingung. aku gak bisa terus-terusan begini. Tiap  hari diteror, dia memaksaku dan memohon-mohon untuk kembali," setelah tadi hening sejenak, akhirnya kalimat  keluar juga dari bibir tipis Bening.
"Ikuti kata hatimu, biarkan hatimu yang memilih, bertindak," suaraku kembali bergetar
Tak rela sebenarnya aku mengatakannya, Bening saat ini sedang menghadapi masa sulit.  Dia pernah bercerita, hubungan yang dijalin sama mantannya, Bowie terbilang lama, 3  tahun. Aku juga sadar, gak mudah melupakan orang yang sudah sekian lama berbagi kisah  hidup bersama.
"Aku gak tahu apa yang aku rasakan saat ini, sumpah, tidak karuan. Dia selingkuh, dan  aku tak akan pernah bisa memaafkannya perlakuannya, tapi.." kembali pipi Bening  terbasahi air mata. Dia mengusapnya. "Tapi disuatu sisi, kenanganku sama dia masih  terlintas. Tapi kalau aku maafkan segala kesalahan yang ia buat, aku takut suatu saat  dia akan mengulanginya lagi, menyakitiku lagi," suara Bening melirih.
"Ning, aku janji, aku gak akan biarkan sedikitpun orang yang melukaimu, sepenuh hati  aku akan menjagamu, melindungimu, karena aku..." ku hentikan ucapanku.

Apa boleh buat. Aku harus mengalah, situasi dan kondisinya tidak tepat. kubujuk  hatiku harus lebih bersabar. pasti ada waktunya, aku menyugesti diriku sendiri. Momen  ini gak cocok untuk mengungkapkan perasaanku, Bening lagi bimbang dengan orang yang pernah  mewarnai hari-harinya.
Rencanaku berantakan sudah, malam ini mungkin aku harus menundanya, lontaran kata- kata penentu masa depan kita kelak.
Malam kebersamaan itu aku tutup dengan mengantarnya pulang.

bersambung..

OTAK KANAN (II)

Siang itu, titik-titik air membasahi kampus FISIP dengan derasnya. Kulihat  pemandangan khas musim penghujan dibalik kaca ruang kuliah. Terpaksa, saya  mengurungkan niat pulang ke rumah habis kuliah Jurnalistik ini selesai. Aku ingat,  jas hujan yang biasa kukenakan masih dijemur di rumah berkat hujan lebat kemarin.  Pukul 13.00 kuliah selesai juga, tak juga hujan mengurangi curah airnya yang  menghujam bumi, justru sebaliknya. Mau tak mau, aku harus menanti hujan reda.

"Wah, lha kok ujannya gak selesai-selesai. Solo lagi gak asyik nih," ujar Tama, temanku.
Tangan kananku secara reflek menengadah, seolah ingin menampung air hujan yang jatuh.  tetes-tetes air membasahi tanganku. "Mungkin malaikatnya yang ditugaskan lupa nutup  kran-nya, jadi gak berhenti-berhenti," ucapku sambil menarik tangan dari guyuran  hujan.
Tak habis pikir, mataku sebenarnya sudah memberikan informasi yang cukup jika saat  ini turun hujan, tapi kenapa masih perlu bukti lagi dengan menyuruh indera perabaku   merasakan air hujan itu untuk membuktikan kalau benar-benar terjadi hujan. Manusia  memang tak pernah puas, langsung kutarik kesimpulan.
"Nunggu di public space yuk, daripada di sini, madesu banget," Tama menepuk bahuku  lalu berjalan pergi.

Banyak orang yang tumplek blek di public space siang itu. dari yang berhotspotan ria,  bercanda dengan sahabatnya, ataupun orang-orang yang duduk tanpa tujuan jelas seperti  kami berdua. Sambil membuka tutup botol mineral, kuminum habis tanpa sisa. Ditegukkan terakhir, pas dihadapanku, mungkin hanya berjarak 4 meter dari tempatku  duduk, aku melihat wajah perempuan tak asing dan cukup familiar. Perempuan berjaket  kegedeaan ala rapper itu sibuk dengan laptopnya, entah mengerjakan tugas, ataupun  menyibukan diri dengan macam-macam feature di komputer jinjingnya.
Aku tak salah lagi, aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat, tapi entah kapan,  entah di mana, dunia mimpi atau di dunia nyata, aku tak tahu pasti. Dia tidak terlalu cantik, tapi sungguh menarik. Kesan pertama aku rasakan.

"Eh, arah jam dua belas, manis cuy," kusikut pelan tubuh Tama.
Kami serentak menatap perempuan itu cukup lama. "Ahhh, lebih cantik arah jam 10,  perempuan soleh, calon penghuni surga." seketika aku melirik sekejab, ekor mataku  membingkai perempuan mungil,putih, berjiblab.
"Tetep cantikan cewek di depanku ini, Ma." Aku kembali menatap wajahnya, kali ini  pandanganku dapat balasan, dia juga menatapku balik. Cukup lama kita saling pandang,  dan akhirnya aku menyerah, tidak kuat dengan sorot matanya. Aku menunduk malu.
"Heh Tang, berani pegang hidungnya, 10 ribu, piye?" tantang Tama sambil menatap  perempuan di depanku.
"Mbahmu, bilang Assalamualaikum sama mbaknya samping kamu, 15 ribu, berani gak??" aku  tertawa sendiri. "Nyalimu kan dibawah rata-rata, ee maaf."
"Berani lah. Lha kamu, manusia tanpa nyali, jadi manusia kok terlalu introvert" balas Tama sambil menepuk  bahuku."Hidup itu soal keberanian, berani menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita  mengerti."
Tak biasa Tama yang urakan ngomongnya bisa serius.
"Lakukanlah apa yang harus kamu lakukan," tambahnya.
"Oke, hari ini, sebelum matahari kembali mengeluarkan sinarnya, aku harus tahu dia  siapa, hujan deras ini akan jadi saksinya" sahutku percaya diri.

Aku keluarkan beberapa kertas buram yang tiga hari ini tidur nyenyak di tas  pinggangku. kuesioner tugas Adver titipan temanku. Aku tarik nafas dalam-dalam, lalu  menata ulang poni rambutku yang kubiarkan panjang. Kutatap dia mantap sebelum  menghampirinya. Sesudah saat itu, segalanya berubah...
 

Ditempat yang sama, tempat di mana kita pertama bertemu, aku menghampiri Bening  yang  sedari tadi duduk, kali ini sambil membaca buku.
 "Baca apa?" tanyaku langsung.
"Eh, mas Bintang, ini baca novel kok." kali ini air muka Bening tampak berbeda, tak  seperti biasanya.

Walau baru mengenal dia seminggu, aku sudah sedikit mengenal kepribadiannya.  Seminggu  yang penuh kekonyolan bersamanya. Mulai dari menganalisis gaya berpacaran orang-orang di  mall, baca buku gratis di Gramedia, nongkrong gak jelas di kampus lain, men-translate  nama bus dalam bahasa Inggris, berfilosofi ria, hujan-hujanan di jalan, bengong di  kali,  dan masih banyak yang lainnya.

"Susu basi, mau gak?" aku memperlihatkan satu kucir es yogurt pas di depan mata Bening.
"Wah, warna orange, yogurt kesukaanku nih, makasih ya mas".
"Akhirnya, kesamaann  kita yang pertama, sama-sama suka yougurt kantin kampus," ucapku  sambil duduk disebelahnya.
"Eh mas, aku boleh ngomong sesuatu gak? Kalau lagi banyak masalah terus muncul masalah  lagi, apa yang harus aku lakukan?
"Makan coklat aja. Gini,  kalau lagi punya masalah, aku biasanya beli coklat, trz aku  masukin kulkas bentar, baru aku makan. Efeknya hebat, stress langsung ilang, masalah  bisa dihadapi dengan kepala dingin setelah makan coklat." Bening menatapku heran. 
"Situasi dan kondisi boleh negatif, tapi kita harus tetap positif. Apapun masalahnya harus kita hadapi. Saat masalah datang, kita jangan menyerah atau menghindar.  Tapi kita harus membangun kekuatan," lanjutku.
Kutepuk bahu Bening. "Pecundang dan pemenang itu beda tipis, sama-sama hidup dalam air mata, bedanya  pemenang tak mengenal kata give up."
Bening mengangguk, "Bener mas, apa yang ada didepanku, harus aku hadapi dengan baik."

"Emang kamu lagi ada masalah apa?" aku beranikan bertanya.
Bening membuang mukanya, sepertinya beban berat sedang menimpanya. Dia menoleh, mata  coklatnya kali ini berkaca-kaca, seakan air mata meluap dari kantong mata, segera  akan tumpah. "Gak papa mas,ini masalahku dengan masa laluku" jawabnya singkat.
"Oke, intinya adalah dalam tangan siapa," seruku. Seketika alis tipis Bening  mengerut, mimik muka tak paham.
Aku merogoh saku jaketku dan mengeluarkannya, "Coklat ini, kalau dalam tanganku, ending-endingnya ya aku makan, tapi kalau di tangan koki handal, bisa berubah jadi olahan coklat  paling enak. Apel dalam tanganku merupakan makanan pencuci mulut. Apel dalam tangan  Newton, bisa jadi hukum gravitasi".
Air muka Bening tiba-tiba berubah, senyum simpul ada diwajahnya. "Aku tahu sekarang  mas, segala sesuatu itu tergantung ada dalam tangan siapa."
"Jadi, serahkan aja segala masalahmu, ketakutanmu, harapanmu, impianmu...dalam tangan  Tuhan. Sebab, segala sesuatu tergantung ada dalam tangan siapa," spontan aku  merangkulnya, berharap pelukanku mampu mengikis beban hidupnya.
Bening terdiam didekapan, "Kok kamu bisa ngomong sehebat itu? Kemasukan roh malaikat  ya"?
"Berkat ini," aku menunjuk sebatang coklat Chunky BAr yang aku bawa tadi. "Habis  makan ini, kamu akan rileks, di dalam benda ini terkandung energi yang dahsyat, yang bisa  membuka pikiran kita, jadi plong." Aku berikan coklat itu pada Bening. Dan itu pertama kalinya aku  melihat dia tertawa lepas. Tawa yang khas, sesuatu hal yang berharga yang pernah aku  rasakan. Saat itulah, pertama kali dia memanggilku Coklat.

bersambung..

Rabu, 01 Agustus 2012

Cerpen Otak Kanan

OTAK KANAN
A short story by Daru

Hanya ingin membagi pada kalian, karena aku pernah punya inspirasi terbesar dalam  hidup, semangat yang tak pernah padam, yang tak akan pernah binasa, yang tak kan layu  daunnya. Sampai kapan pun, sampai kita tak bertemu lagi dan dunia masing-masing terpisah jauh, aku pastikan, selamanya kau inspirasiku. Sebuah cerpen pertamaku. Selamat membaca.

Jalanan kota Solo kala senja sangat bersahabat,lengang seakan jalan hanya  diperuntukanku saja. Sepeda motor buntut merah digeber kencang membelah Jalanan  Slamet Riyadi. Jaket abu-abu yang kupakai melambai-lambai terkena hempasan angin.  Kali ini disaku sebelah kanan terisi coklat almond kesukaan Bening.
Sudah 3 minggu belakangan ini menjadi rutinitasku. Pulang kampus, mandi, sms-an, setelahnya  langsung main ke rumah Bening. Bedanya, cewek yang baru aku kenal ini mendadak ingin  bertemu. Syukurlah, momen hari ini sekalian menyelesaikan misi rahasiaku yang  tertunda.

Di gang kecil dekat rel kereta api, motorku berhenti. Dua senyum khas langsung  menyambut kedatanganku di depan rumah mungil bercat putih. Ya, senyum keduanya persis  senyum Bening.
"Sore bu, Beningnya ada?" sapaku.
Ibu itu seketika meletakkan pot kecil bunga  yang sedari tadi dipegangnya. "Ada,  bentar  ya, kayaknya lagi di kamar," jawab Ibunya ramah sembari menyuruh putri  kecilnya untuk memanggilkan kakaknya.
"Kak, dicariin pacar kamu" teriak si kecil polos.
Pacar? aku hanya tersenyum simpul sambil melihat wajah bulat mirip bakpao adik kecil  itu.
Tak lama, Bening keluar dengan sibuk mengaduk-aduk isi tas gendongnya untuk mencari  sesuatu. Seperti biasa, wajah putih cerah tanpa polesan make up sedikitpun,  rambut panjangnya dibiarkan terurai, dipadu dengan jaket yang kegedeean untuk postur  tubuhnya, pilihan celana jeans biru pas membalut kakinya yang jenjang. Sneaker  buntut pun tak lepas sebagai penyempurna penampilannya. Bening memang unik, dia tak  seperti cewek-cewek pemicu libido pria. Berbaju seksi, hot pants, dan  dada yang sengaja  dipamerin bak feromon buatan untuk menarik perhatian para pria. Bukan juga tipe Toge  Pasar (Toket Gede Pantat Besar). Bening unik, dia punya cara dia sendiri untuk  memancarkan sex appeal-nya. Ceria, cuek, tomboi, kata-kata yang terucap sangat ajaib  dan sulit diduga, baru kali ini aku bertemu wanita sespesial dia. Bening membiarkan  semua dalam diri nampak apa adanya disekelilingnya. senyum dan tawa khasnya jadi  selling point tersendiri.
"Kau cantik hari ini," Spontan ku bersuara.
"Apa sih, mulai deh nggombal lagi, pantesan tadi aku cari gombal buat ngelap kaca gak ada,  taunya ada di kamu," muka Bening memerah, salah tingkah.
"Emang kita mau ke mana sih, Ning ?" tanyaku bingung.
Tangannya sibuk mengucir Rambut lurus sekenanya dengan karet yang diambil dari tasnya  tadi. "eh, hmm, gak tahu ni, Co. kita serahkan aja ke mana ntar kaki-kaki kita  melangkah."
"Tu kan, kamu gak pernah jelas. Pikiranmu selalu butek gak kayak namanya. Orang tua mu nyesel kali kasih nama Bening, amanat dan doa mereka gak dijalankan anaknya," balasku.
Bening nyengir. "Daripada kamu,Co, orang sama nama gak sinkron, mana ada Bintang kok  gelap, di mana-mana tu terang, putih berkilau. jangan-jangan pas dilahirin, tak  sengaja kecemplung di empang ya? makanya kulitmu coklat."
"Woooo, jangan salah, Ibuku tu ngidam coklat sewaktu mengandung aku, makanya anaknya  manis, kayak coklat."
Bening terkekeh."Ngidam tempe gosong kali, Co!"
Co! lagi. Dia tak pernah sekalipun absen memanggilku Co, Coklat lebih tepatnya.  Bening a.k.a Butek ini punya analisis sendiri mengapa menamaiku Coklat. Selain aku  terlahir dengan kulit sawo matang khas Indonesia, dia pernah bilang kalau aku adalah  segelintir orang di muka bumi ini yang bisa meredakan penat dan stress yang Bening  rasakan. Pihak yang selalu memberikan solusi disegudang permasalahannya. Anak laki- laki yang dalam tubuhnya terdapat kandungan phenylethylamine. Suatu subtansi mirip  amphetamine yang dapat meningkatkan serapan triptofan ke dalam otak yang selanjutnya  menjadi dopamine. Sesuatu yang disebut Dopamine inilah yang memberikan efek rileks dan perasaan senang. Bening menilai diriku kerap memperbaiki suasana hatinya, seperti coklat.
Tanganku merogoh saku jaket, langsung menyodorkan coklat pas dimulutnya. "Ngobrolnya  lanjutin ntar, udah kesorean nih," pintaku.
"Ow iya, btw, makasih ya Co coklatnya."

Kami berdua kemudian pamitan sama Ibu Bening, Seketika, dua anak manusia paling keren pergi dan  melaju entah ke mana.
Hampir 30 menit dua orang duduk di atas dua roda yang membelah jalanan. Selama  itupun, kami belum tahu arah tujuannya. Akhirnya makhluk beda kulit ini berdebat. 
" Enaknya ke mana nih, dari tadi muter-muter gak jelas," omongku lebih keras untuk  mengimbangi suara bising sepeda motor.
"Tauk...." sahut Bening yang terdengar samar-samar. "Kamu kan cowok, harusnya tahu.  Aku hanya ingin merasakan kehangatan angin sore, ingin lebih akrab dengan senja, Co.  Senja adalah tempat untuk merubah siang yang arogan menjadi sang malam yang maskulin."
"Ya elah, mulai puitis, sok jadi filsuf kamu. Aku pengen maem, yaudah, berfilosofinya sambil makan  aja ya.  Pokoknya beres, tempatnya enak kok buat kongko-kongko." aku menarik nafas  sebentar. "Aku juga pengen ngomongin sesuatu sama kamu," suaraku lirih, tak tahu  apakah Bening mendengarkan omonganku yang terakhir ini.

Lampu-lampu restoran mulai menyala sewaktu tiba di tempat makan. Matahari kali ini  benar-benar bersembunyi di peraduannya. Cakrawala yang terlukis garis-garis kuning  keemasan sewaktu kami berangkat, berubah warna menjadi langit hitam gradasi biru tua,  dihiasi bulan yang hanya separo.
Tempat itu adalah warung makan kaki lima. Nasi goreng adalah menu favorit yang  dimilikinya. Sebenarnya aku ragu mengajaknya kemari, jangan-jangan dia tak suka  tempat ini.
"Ini mah tongkrongan genk SMA-ku. Kangen aku sama ini tempat," celetuk Bening tiba- tiba.
Spontan dia menarik tanganku erat, mengajakku langsung masuk dan duduk di meja depan  pintu masuk. Tak kusangka, tangan halusnya mampu membuat degup jantungku berhenti  sepersekian detik. Tubuhku tiba-tiba memanas. Dibawanya ku ke alam bernama asmara.

Sesegera Bening duduk yang dibarengi melepaskan tanganku dari genggamannya.
"Ngapain sih duduknya di sini, kan masih banyak meja yang kosong?" ucapku sambil  menunjuk meja yang pas menghadap ke poster gambar nasi goreng dan sepasang manusia  yang lahap menyantap makanan di depan meja pilihanku.
"Ah, sini aja, ngadep jalan, kita bisa lihat tu pemandangan malam," telunjuk Bening  mengarah ke langit dengan taburan sedikit bintang dan separuh bulan. "Ah,jadi inget  temen-temenku nih kalau makan di sini".

Tak lama, kami berdua memesan dua nasi goreng tidak pedas dan dua es jeruk. Dari  sekian banyaknya perbedaan, ada secuil persamaan, diantaranya kami berdua makhluk  yang tidak suka masakan pedas.
Aku ketuk-ketuk gelas es jeruk dengan jari-jariku. Entah kenapa, rasa gugup  menghinggapiku. Aku punya rencana, aku punya angan-angan, aku harus mengatakannya sekarang. Tiga kali aku gagal, tak punya nyali untuk mengungkapkannya. Kesempatan kali  ini harus berhasil, sekaranglah waktunya atau menyesal selamanya. Makhluk perempuan bernama Beninglah yang selama tiga minggu ini selalu menginvasi pikiranku.  Hari-hariku penuh dengan kejutan.
Aku sruput sedikit es jeruk, lalu menelan air  manis sedikit masam itu. "Ning, aku mau ngg-ngomong ss-sesuatu sama kamu," ucapku terbata.
Aku tak mau ini  gagal. Aku akan mengatakan apa yang kusimpan selama seminggu ini.
"Ngomong apa?" sorot mata coklatnya tajam menatapku.
Sinar matanya itu kembali mengingatkan waktu pertama kali kita bertemu. Kami berdua  kuliah di Fakultas yang sama, cuma beda Program Studi. Sudah hampir 4 tahun ini aku menjadi anak Ilmu Komunikasi. Sedangkan Bening, angkatan baru di Periklanan. Seumur- umur aku tidak percaya adanya istilah cinta pada pandangan pertama. Sampai di mana  aku bertemu Bening, gadis unik,berantakan dengan mata coklatnya nan indah membuat  imanku akan cinta berubah. Saat itu juga, aku menelan semua ketidakpercayaanku. Sadar dan percaya adanya Love in first sight. Akhirnya juga sependapat kalau  cinta itu seperti udara, ada dimana-mana. Kali ini terhirup di kampusku, tempat  studiku.

bersambung..

Senin, 30 Juli 2012

CINTA ?


Apa itu cinta ? Mereka bilang, hidup tanpa cinta, bagai raga tanpa jiwa. hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga. Cukupkah menjelaskan apa itu cinta ? Ada yang bilang, tak hanya meminta, tetapi selalu memberi dan tetap setia disetiap penderitaan yang dialami. Itukah cinta ?

Cinta adalah emosi dari kasih sayang yang kuat. Menyerang semua makhluk tanpa pandang bulu. Siapakah cinta itu ?

Agape, eros, philia, storge. 4 konsep yang selalu muncul bila kita mempertanyakan eksistensi cinta. Benarkah itu cinta ?

5 huruf dan 2 suku kata yang cukup dahsyat dan bisa memabukkan semua orang yang dihinggapinya. Bagai virus mematikan yang tak bisa dipandang sebelah mata. Bila terjangkit, seorang dibuat tak berdaya atau bahkan hilang logika. Itukah Efek Cinta?

Cinta tak harus memiliki, cinta bertepuk sebelah tangan, cinta monyet, cinta terlarang, cinta mati, cinta lama, cinta mamon, cinta palsu, cinta suci, narsis, hedonisme, nasionalisme, primodialisme, obsesi, nafsu, cinta sejati. Apakah itu jenis Cinta ?

setiap insan pernah merasakan cinta, dari yang baru mengenal kehidupan sampai orang yang sekarat hampir bau tanah. cinta itu indah, cinta itu murni, cinta itu rumit, cinta itu inspirasi, cinta itu manis, cinta itu pahit, cinta itu anugrah, cinta itu misteri, cinta itu konyol, cinta itu seks, cinta itu pedih, cinta itu suci, cinta itu mimpi buruk, cinta itu tulus, cinta itu sakit hati yang tertunda, cinta itu pengorbanan. Apakah itu macam rasa yang disajikan sepiring Cinta ?

ya, menurutku cinta itu tidak bisa didefinisikan, tapi bisa dirasakan, Kasat mata, tapi ada. Cinta mempunyai sejuta makna, tergantung dari penikmat cinta yang merasakannya. Cinta itu universal, semua berhak mencicipinya. Itukah definisi cinta sebenarnya ?

Cinta seolah mengubah seorang yang semula berjiwa kosong menjadi bak pujangga abad pertengahan, penuh sejagad inspirasi. Cinta juga mampu melemahkan seorang gagah perkasa. Jawara perang dibuatnya terkulai lemah, tak berdaya, sekarat, hening sesaat, kemudian mati !

Cinta juga sebagai doping, imun yang membuat manusia kurang gizi menjadi layaknya pahlawan yang berhasil merebut kota. Mungkinkah cinta itu suatu energi kekal yang mampu mengubah sesuatu menjadi lebih kuat ataupun justru melemahkan.Itukah cinta ?

Cinta adalah pengorbanan. Pengorbanan adalah cinta. keduanya bagai koin dua sisi tak terpisahkan. Di mana ada cinta, di situ ada pengorbanan, dan sebaliknya. Seperti seorang ayah yang rela kepanasan, terpanggang hidup-hidup demi melindungi dan menyelamatkan anaknya dari kebakaran. setiap tetes darahnya wujud esensi cinta sebenarnya. Seorang ayah mengorbankan segalanya demi sang anak yang sangat dicintainya.

Apakah Kisah Romeo & Juliet merupakan cinta sejati yang sebenarnya ? Bukan, cinta sejati adalah dia yang rela berkorban demi seorang yang dicintainya, bukan justru mati bersama. Perjuangan sampai hembusan terakhir, itulah cinta sejati.

Cinta itu perasaan yang tak ternilai harganya. Semua perasaan baik suka, senang, sedih, bahagia, duka, tawa, tangis, damai, kuatir, terbungkus oleh kata bernama Cinta.

puisi, syair, lagu, doa, hadiah, perhatian, nasihat, hukuman, penolakan, apakah itu apresiasi dari wujud Cinta ?

Disini, aku hanya berfilosofi, bebas menulis, membiarkan otak kananku bekerja, ku buka seluas-luasnya jalan keluar kata demi kata dari otak kananku, di mana imajinasiku bermukim. memasrahkan tangan-tanganku menulis yang dikendalikan sang otak kiri.

Cinta itu aku, cinta itu kamu. Cinta itu menyatukan segunung perbedaan yang kita punya. Cinta itu memilih. dan perasaan unik yang dikenal dengan nama Cinta ini memilih kamu.

Cinta merupakan perasaan tak karuan, tak terdefinisikan dan anugrah yang harus dijaga. aku ingin membagi cinta ini bersamamu, memelihara cinta ini berdua, dengan komitmen pastinya.

Cinta sejati tak pernah gagal....mungkin cuma kurang belajar dari pengalaman. Ajari aku tentang bahasa cintamu, aku akan menuliskan puisi cinta itu. Tak sedikitpun lelah menanti, tetap berdiri teguh, mencari, berlari sampai memeluk kembali dirimu, seperti waktu dulu.


Didedekasikan untuk orang yang mengenal cinta, menunggu cinta, mencari cinta, dan yang jengah kepada cinta.

 

EKSEKUSI

ceceran darah tak berdosa mengering
di tempat anyir bak pasar ikan, tanah hukum
pria kurus keriput menjerit meronta sekenanya
Anjing !!
cambuk mengamuk mencukil kulit rapuhnya
dua pria besar merah padam nyengir bengis
Keparat !!
darah segar muncrat disekujur tubuh sepuh, bertubi-tubi
seketika bibir mengatup, seorang pria besar merah padam mengasah pusaka sakral
seorang lain nampak bermandikan cairan merah amis, serupa kain kesumba
Bangsat !!
bukankah pusaka itu hanya dipakai untuk mengeksekusi bandit maha bersalah ?
Salah apa ?
pria kurus keriput tergeletak tak berdaya
tinggal hitungan jari, samsaranya akan berakhir
dipakainya ketopong kemunafikan, dua pria besar merah padam lantas mengumam
proses eksekusi segera dimulai
tubuh renta pria kurus keriput pasrah menyerah. Namun sorot mata membaca jelas ketidakbecusan di dada si merah padam
Anjing-anjing berdasi menyalak kegirangan, seraya mengibarkan bendera kekuasaan ke bukit kemenangan.
terbias yakin tatapan mata sabit malaikat maut di kilau pedang pusaka yang selesai diasah
Anjing !! Jangan !!
si besar merah padam beri aba-aba
tiada waktu pria kurus keriput mengucap sepatah kata
Bangsat !!
Keparat !!
Anjing !!
Diayunkannya, ditebasnya tepat di nadi keadilan
punah sudah harapan, tersisa darah membekas di jiwa
Anjing !! bocah kecil serupa aspirasi yang sedari tadi berteriak-teriak, lempar umpatan
Minor !! Bisu !! Gagu !! gaung pun tak terdengar
Anjing-anjing berdasi berhamburan, mengerogoti seonggok daging pria kurus, memamah tulang keringnya
Tak puas, anjing-anjing berdasi mengibas-ngibaskan ekor,pasang muka melas
Sang algojo merah padam luluh, melunak
kawanan anjing berdasi menerkam keduanya, merah padam tak bersisa
Anjing !! Sadis !!


untuk kalian, korban ketidakadilan 

SIUNG CERIA

Pantai Siung (9-10 Juli '12)

 



Sebenarnya saya sudah lama menulis kisah petualangan ini, tapi hanya tersimpan rapi didata(D) komputer. baru sempat hari ini mempostingnya.

Dalam tulisan ini, saya menceritakan kembali apa saja yang aku dan teman-teman lakukan selama dua hari satu malam di Pantai Siung, Yogyakarta. Dengan tetap membawa slogan yang selalu kita agungkan, Kebersamaan. Layaknya rutinitas sebelum kita berangkat, NGARET (sengaja dibold n kapital sama penulis-red) adalah ritual yang tak (mungkin) pernah lepas dan wajib kami lakukan. Rencana berangkat jam 10, gagal total. Faktanya, kita baru berangkat setengah dua, woww banget untuk ukuran mahasiswa semester akhir yang hapal diluar kepala slogan 'time is money".

Semua itu terlupakan seketika, di saat kaki-kaki lelah kita menginjak hamparan pasir putih pantai Siung. Di zona pemisah antara darat dan laut ini, kondisi fisik kembali pulih sekejab setelah melihat pemandangan indah khas pantai. Walaupun semuanya sepakat kecewa karena jauh seperti yang diharapkan, bagi kita pantai ya tetap pantai. pasir putih, ombak, angin, karang, laut. berbagai unsur itu saling berkombinasi sedemikian rupa sehingga bernama pantai. Seperti juga kita, Daru, Kirun, Adil, Satria, Kecret, Pythag, Cacing, Parmi, Ocie, Karyo, Dura dan Hasan, semuanya dari unsur yang berbeda, mereka bersatu menjadi sesuatu yang indah, seperti pantai itu sendiri.

Malam itu, jujur, malam yang sangat luar biasa indah. Aku belum pernah melihat taburan bintang sebanyak malam itu. membaringkan tubuh di atas pasir, menikmatimasterpiece berjudul "Nyanyian Ombak, Kilau Pasir dan Bintang Jatuh" dari Sang Pencipta, menatap pasukan bintang yang tak terhitung jumlahnya,yang tercecer ke seluruh cakrawala, tapi tetap nampak elok. Alam selalu memberikan kejutan yang tak terduga, mulai dari banyaknya bintang jatuh, deburan ombak bak alunan lagu alam, udara dingin yang menusuk, aroma laut, semuanya terlalu indah buat kami alami. Aku juga gak tahu permintaan apa yang temen-temen  panjatkan ketika melihat bintang jatuh, saat itu aku hanya meminta agar aku selalu bisa menikmati keindahan ini bersama teman-teman saya. Mungkin, malam itu bisa jadi milik ehem, Pythag dan Cacing. ini asumsiku, apa asumsimu ?
Api unggun kami mungkin iri, karena Kehangatan yang dipancarkan tak bisa melebihi kehangatan persahabatan kita. Malam yang seru, malam di mana Adil berlagak jadi Chef Juna, berpedoman pada efisiensi. Aku sebagai asistennya menilai masakannya standart, tak beda jauh sama mukanya, emaap. hahha, because what, "Cahyaning Rembulan" ndak tampak pada malam itu, mungkin minder kali saking banyaknya bintang-bintang di langit.

Kejutan kecil, sewaktu Dura dengan spontannya mengambil botol mineral yang isinya air laut, tanpa basa-basi langsung diteguknya air itu. Alhasil, tawa pecah pada malam itu. Air dalam botol itu kan sebenarnya buat...gak etis ah disebutin di sini, hehehe. buat bilas pipis cowok. emaap keceplosan.

Seperti layaknya tinggal di alam terbuka. dome, api unggun, gitar, nyanyi-nyanyi gak jelas sudah jadi tradisi.

pagi harinya, aktivitas kami di penuhi dengan berfoto-foto ria. Olahraga juga, voli pantai jadi pilihan para anak laki. si perempuan pada bercanda ria di dome.
Pokoknya liburan ini sangat menyenangkan................is'nt it ?

p.s teruntuk teman-teman:
Big Thx buat Kecret, yang mengajakku dan Hasan ke spot tebing dengan pemandangannya yang luar biasa indah, walau treknya lumayan melelahkan

Untuk Kirun, adoh-adoh tekan ujung Selatan Jawa we ijek galau mas, bukti otentik ada di kamera saya. dari gambar itu, menulis I <3 TF di pasir. ckckck. bro, wanita itu kayak pasir di laut, ombak di pantai, banyak !! Tapi kalau stagnan di satu orang, inget aja ini, karang yang kokoh dan kuat aja lama-lama bisa terkikis ombak, maka jadilah ombak itu, dan luluhkan hati pujaanmu. Cemunggudh...!!!

Buat karyo, yang hampir sedikit lagi melihat surga. tersapu ombak dan terombang-ambing di tepi laut. sayang, saya tidak menyaksikan peristiwa itu. hanya dapet critanya. coba saya lihat, mungkin saya akan tertawa sekeras Kirun tertawa.hehehe. saran saja, sekali-kali coba olahraga renang, jangan futsal terus.

Dura, thanks udah banyak membuat kejutan. mulai dari tragedi air botol mineral, dua kali ban sepeda motor anda bocor. Tanpa kamu, perjalanan pulang kita monoton dan boring cuy..

Adil, suwun bro udah jadi GPS, tour guide kita. Sepertinya darah seorang navigator mengalir deras disetiap pembuluh darahmu. Sepertinya, Colombus adalah nenek moyangmu.

Hasan, temen minum kopi, tim SAR dadakan untuk cari Kecret yang tiba-tiba hilang. Coy, wajahmu mendominasi kamera. kamu berhak dilabeli orang ternasis kali ini.

Pythag dan Cacing, thank a lot buat kalian berdua. mulai dari nraktir kami Mie bakso, sate, ataupun bakso. Cacing buat petikan gitarnya yang mampu mengalahkan dinginnya malam saat itu. membuat kami bernyanyi sesuka hati.

Satria, yang menjabat sebagai mentri ekonomi dan kesejahteraan rakyat, sehingga gizi kita terjaga dan tak kelaparan. Dan mau bersabar menunggu kita bertiga yang asik menikmati seremah surga di atas tebing sampai lupa waktu.

Ocie, yang baru bisa tidur jam 5 pagi. Yang juga jadi temen melihat bintang.

Parmi, sepertinya saya tidak banyak moment denganmu Mbok. selain belut gorengmu. masakan kita jadi lebih yummy. oiya, sampai sekarang saya masih bingung kenapa dirimu membawa masako ??

dariku, Daru, hanya ini yang bisa aku persembahkan buat kalian. hanya tulisan ini yang mengingatkan ku betapa hebatnya kalian. Cheers guys !!!!!!

      
Negara kita tak akan kehabisan pemimpin jika generasi mudanya orang-orang yang suka berpetualang alam, menaklukan gunung dan menyusuri pantai.

The Beginning


Akhirnya, setelah sekian lama, tiba juga waktu yang pas melakukan sesuatu yang dari dulu pengen aku lakukan. Blog, pada hari ini, tanggal ini, menit ini, detik ini, blog pribadiku terlahir normal dalam rahim bernama blogspot. Layaknya seorang anak, blog ini aku beri nama Sunshine. Sunshine akan aku rawat, ku beri makan berupa tulisan-tulisan yang ku buat dengan penuh kasih sayang.

Pertama, aku bingung mau menulis apa, atas saran temanku, tulis apa saja yang ada di otak kanan atau kirimu. Tulis apa saja yang bisa bikin kamu tidak ingin berhenti menulis. apakah itu kisah hidupmu, khayalanmu, petualanganmu, rahasiamu. dll.

Kedua, Persetan dengan Cibiran dan kritikan !!! jangan dulu memikirkan apakah tulisanmu nanti di baca orang atau tidak. Suka/tidaknya pembaca terhadap tulisan itu urusan belakangan. yang jelas percaya dengan apa yang ada di hatimu. kembangkan jiwa seni rangkai katamu dan kreativitasmu. oke kawan, lets do this !

Ketiga, Tokoh-tokoh besar dan berpengaruh bagi perubahan dunia pasti punya catatan harian, bedanya mereka dengan cara konvensional, kali ini aku pake cara modern. Soe Hok Gie, R.A Kartini, Chairil Anwar, segelintir tokoh yang punya catatan harian.

intinya, aku juga harus punya karya sendiri, karya yang seperti mereka punya. Siapa tahu aku juga bisa seperti mereka, tapi tidak dengan mati mudanya. hehehehe.

Keempat, blog ini bisa jadi media untuk terapi jiwa, membagikan kisah hidup kita yang unik kepada semua yang membaca.

manusia tanpa blog, bagai puisi tanpa makna.

Terakhir, hidup itu tak semudah pipis sembarangan, sekian dan terima kimcil.



penulis

Banner Ad