Selasa, 12 Maret 2013
DOA MALAM
Tuhan yang berkuasa dan bertahta di kerajaan surga yang mulia, Ya Tuhanku, sebelum tidur aku ingin bertanya sesuatu padamu, pernahkah Engkau merasakan kesepian yang mendalam di tengah malam...?
Terima kasih Tuhan, Amin.
Sabtu, 09 Maret 2013
Kembali "Menulis"
Inilah harinya, aku tersenyum di kala senja. Inilah harinya,
seperti keinginan untuk mencungkil luka kering. Dan inilah harinya, sesuatu
yang seperti cadar menyembunyikan keinginan itu.
Inilah waktunya. Inilah saatnya. Inilah aku, menyiapkan
bekal perjalanan untuk segera menyusul.
MIMPI !!
Hitamnya langit seketika putih. Kilat-kilat menjilat samudra
yang berontak. Duarr...duarr, petir menyambar, duarrrr.. duarrr, menggelegar. Terdengarlah suara gemuruh, seperti
derapan ribuan kuda pasukan. bagai tiupan sangkakala perang suara itu nyaring
menusuk telinga.
“Jangan pilih perempuan yang
lebih baik, pilihlah perempuan yang membuatmu jadi laki-laki yang lebih baik.”
(sela) kedua mata terbuka, sedikit demi sedikit terbingkai
lampu temaram. punggung tangannya menyapu butir-butir peluh yang berbaris rapi
di kening. Satu desahan, mulut kering retaknya, menyembulkan seringai nan unik.
Kamis, 07 Maret 2013
Sepotong Cerita Sore
Wajahnya seperti menerangi sendu. Matanya bening, memancar
tawa seru. Tubuhnya terbungkus kulit susu. Dan dengarlah, berkata-kata dengan
lidah penuh madu.
Tapi itu masa lalu, ya dia dulu... kini layar putih yang
mengabur semakin fokus, palsu....
Rabu, 27 Februari 2013
Pengakuan (II)
Aku hanya ingin dia mengetahui
isi ceritaku tanpa aku harus bercerita kepadanya, apa itu salah?
(Daun, seorang pria dengan ego
yang besar)
Aku tidak akan menghubunginya
lagi, bukan berarti aku membencinya, aku tetap sayang sama dia. Aku hanya ingin
dia tahu, ingin dia sadar, siapa orang yang benar-benar peduli dengan dia.
(Embun, seorang perempuan)
Aku tetap akan lebih menggunakan
logikaku daripada perasaanku. Bukannya apa-apa, tapi itu sesuatu yang wajar.
Karena aku yakin dia pasti untukku dengan berkaca pada hal-hal yang selalu dia
berikan padaku.
(Akar, seorang pria)
Bukan salah saya kalau aku lebih
memilihnya, karena dia memberikan kepastian. Sesuatu yang tidak ditunjukan oleh
temanmu itu.
(Kuncup, seorang perempuan
yang tak mau menjadi korban ego seseorang)
manusia kerap mementingkan egonya
sendiri daripada perasaan orang lain. Jadi, redamlah sedikit egomu itu,
belajarlah untuk lebih menghargai orang lain, dengan menelan egomu itu dan
mulai jujur di depan orang lain tentang apapun itu. Untuk sesuatu yang lebih
indah bagi hari-harimu.
(Ranting)
Senin, 25 Februari 2013
Pengakuan (I)
Ya, saya orang paling bodoh yang
pernah dilahirkan, goblok segoblok-gobloknya. Kenapa baru terasa pedihnya sekarang
setelah saya tahu siapa orang yang benar-benar peduli sama saya. Orang yang
justru sayang tulus sama saya, orang yang selalu berada dekat dengan saya,
justru dia yang saya sia-siakan, selalu saya sakiti. Tetapi perempuan yang aku
cinta mati-matian, perempuan yang selalu aku agung-agungkan justru menipu dan
memanfaatkan saya saja. Mungkin ini karma yang harus aku terima. Perbuatan yang
selama ini gemar aku lakukan akhirnya menyerang balik diriku, melalui perempuan
jalang itu.
(Fajar)
Aku sebenarnya sedih melihat
kamu. Kamu tak selalu mendapatkan bagian indah dalam hidupmu. Kamu selalu
gagal, dan hanya meraasakan kebahagian sesaat. Aku tu selalu ada disaat kamu
sedih, senang. Tapi apa yang aku terima, kamu hanya selalu menyakiti hatiku. Kamu
selalu menyepelekan tulusnya perhatianku ke kamu. Kamu memang bodoh, tak punya
pendirian, pengecut dan memalukan. Mengapa baru sekarang kamu tersadar, disaat
aku sudah bahagia dengan orang lain. Aku hanya berharap kamu segera menyadari
kebodohanmu. Aku percaya kamu bisa berubah.
(Senja)
Kamu tu gimana ya, ada gak sih untuk
menggambarkan orang yang lebih dari tolol?, kamu tu berkali-kali gue bohongin,
tetep aja mau. Emang dasarnya kamu udah tololnya parah kali ya, jadi ya gue
manfaatin terus ketololanmu dengan menggumbar harapan palsu gitu ke kamu. Gue
di sini Cuma bisa terkikik puas aja. Ada
aja orang kayak kamu... Dasar bego!!!
(Jingga)
Sebagai manusia harus peka, siapa
yang peduli dan siapa yang acuh tak acuh, siapa yang sayang siapa yang benci, siapa
yang ada dipihak kita dan siapa yang menjadi musuh kita. Jangan sampai hanya membuka mata fisik kita
dan menutup mata hati kita. Terkadang orang-orang yang sangat peduli sama kamu
adalah orang-orang yang justru tak pernah kamu anggap eksistensinya dalam
kehidupanmu.
(Bintang)
Rabu, 20 Februari 2013
Kisah Pemuda Penyendiri, Pohon Ara, dan Dewi Pujaan (II)
Tampak kumpulan kunang-kunang
terbang rendah. Bergerak terbang gemulai bagai tarian balerina. Binatang itu menyala remang dari kejauhan, tertangkap oleh sorot mata pemuda yang mulai
pudar. Tatapannya tak lagi tajam. Lambat laun matanya mengabur membingkai atap
istana, di mana dewi pujaan tinggal.
Detik demi detik. Hari
berganti hari. Sahabatnya, pohon ara juga mulai menggugurkan satu per satu
daunnya yang menguning. Si pemuda nampak suram. Dilihatnya sang dewi pujaan tak
lagi ceria seperti kala itu, sore hari saat ia memainkan anak rambut pirangnya
atau sekedar menghirup wangi kuning merah bunga istana. Dan benar saja, si
pemuda melihat dewi pujaan menitikan air mata.
Sang Dewi duduk diberanda. udara
terhirup sesak, menumpahkan lewat bunga kata.Andai dia bisa seperti pemuda itu,
hidup sendiri, tak akan pernah ada yang menyakiti. Hidup menyendiri,
terbebas rasa sesak meski tak bersayap. Dia ingin seperti pemuda penyendiri itu, hidup
menyendiri sehingga tak akan ada yang melukai hati. Dia menyakini pemuda itu
beruntung, karena tak pernah merasakan cinta, hidupnya tenang, bercumbu dengan
kesendirian. Sang dewi sudah muak dengan kepalsuan yang dihadapi. Orang-orang
yang dia cintai memakai topeng. Pintar menyembunyikan maksud.
Baris demi baris, bait demi
bait, dirangkainya ramuan kata mewakili hati. Pangeran berkuda putih yang ia
nanti, tak akan pernah kembali selamanya. Mungkin saja...
Sendainya kau alasan bagiku
untuk selalu menikmati pagi lalu senja
akan kurangkai bunga kata
membungkus dalam sepotong awan
hujan deras kala itu, celaka
memudarkan tinta rasa
membasahi secarik harapan
musnahlah rajutan masa depan
titik-titik air tak lagi menggigit kulit
hujan mereda, tercoret segaris pedih di angkasa
melintang menembus jantung
kini tinggal sunyi, roda kayu pedati menggilas
bayangan
menjelma dalam cahaya malam
remang redup lalu pekat
terbang hilang tertiup luka
Langganan:
Postingan (Atom)