Kamis, 16 Agustus 2012

CERPEN (EPISODE #1 : TAMAT)


Cerpen lagi ! Cerpen ini justru muncul ketika aku sedang berpikir keras mencari ide-ide untuk skripsiku. Janin skripsi yang belum terbentuk sempurna masih melayang-layang dirahim pikiranku. Ingin sekali segera menginjak 9 bulan 10 hari dan mengeluarkannya dengan memberi nama Skripsi bla bla bla bla. Entah kenapa, sampai sekarang aku belum menemukan tema skripsi yang tepat untukku. Ketika aku memikirkan metodologi analisis wacana, justru secara tiba-tiba tema cerpen ini yang muncul di otakku.

Andai saja skripsi seperti karya fiksi, aku bisa mengarangnya sesukaku. Realitasnya, skripsi bukan hasil karangan sewaktu ada tugas Bahasa Indonesia. Skripsi itu rumit, dan aku benar-benar kesulitan menemukan ide yang pas untuk aku kerjakan.

Berbagai cara aku coba, dari ke perpus, googling, sharing sama temen, hasilnya nihil. Mungkin sebagian tubuhku belum siap menerima tugas mulia mahasiswa ini. Atau mungkin hati kecilku masih menolaknya, karena belum ada special thanks yang tesemat di skripsiku. Hey boy, nulis skripsi kan bisa sejalan dengan mencari special thanks. Aku hanya bisa menyemangati diriku sendiri.

Sampai sekarang pun aku masih berlutut, melipat kedua tangan, berdoa memohon agar diberi inspirasi untuk mengerjakan project terakhir kuliahku, skripsi.. Daripada bermain sosial media melulu yang cuma itu-itu saja, aku memilih keluar mainstream, dan membuat karya kecil-kecilan. Menulis cerpen sembari berharap kilat inspirsi menyambar pikiranku.

Terakhir, Don’t ever give up, just try and try to get what you want, Cause love will find the way, petikan lirik When You Love Someone, Endah ‘n Rhesa menyemangatiku, supaya tak henti-hentinya mencari inspirasi skripsiku.

karya sederhana dari mahasiswa tingkat akhir. selamat membaca !! 

Episode #1 : Tamat
Short story by Daru

Gelak canda membanjiri ruangan ini. Sepasang manusia tampak kepayahan menenggak gelas demi gelas anggur merah. Sesekali, mereka berpagut mesra. Tubuh setengah telanjang saling memeluk erat. Dua botol berisi anggur telah kosong, mereka berdua tergopoh-gopoh menuju kamar tidur. Di atas kasur empuk itu, kembali tawa renyah terdengar. Keduanya tengah dibuai kebahagian tiada tara. Meskipun tak diajak, janji sehidup semati sore tadi berjalan lancar, kesimpulanku.

Genji, akhirnya menikahi pelacur itu. Tak pernah terbayangkan, Genji  yang seorang pengusaha properti mau-maunya bersanding dengan "sampah masyarakat". Lima bulan lalu, Genji mengenalkannya kepadaku, sepintas tak jauh beda dengan para penjaja nafsu lain yang kerap dibawanya pulang. Hanya saja, dia memperlakukan sama seperti yang Genji lakukan kepadaku. Dia adalah satu-satunya pelacur yang tidak aku hadiahi gigitan sebelum menerima segepok uang. Pernah suatu kali, aku dibelainya lembut dan diciumnya sebelum pulang meninggalkan apartemen ini. Tapi aku tetap membencinya, karena Genjilah cinta matiku, aku tak akan membiarkan orang lain merebutnya dariku.

Selasa, 14 Agustus 2012

TRIP TO HEAVEN (Siang Itu)

Setiap manusia punya surganya sendiri-sendiri
Bagiku, tak harus menunggu mati 
tak perlu menjelajah samudra, mengitari bumi ataupun melintasi galaksi
cukup di seberang sana,
melesat selepas anak panah
mengetuk pintu, membingkainya
aku temukan seremah surga di tengah kota

di hari yang terik, aku kembali merajut mimpi

Senin, 13 Agustus 2012

SEMUANYA ADALAH SIA-SIA



Kesia-siaan belaka, Kesimpulan Sang Pengkotbah ketika cukup lama merenung secara dalam-dalam betapa singkatnya hidup manusia  yang tak lepas dari peperangan, ketidakadilan, rekayasa sejarah, pemutarbalikan fakta, kesia-siaan belaka. Hidup hanya sia-sia belaka.  

Hidup kita hanya berputar melingkar, seperti sang bumi yang terus menerus berputar. Kini kita hidup dalam kesia-siaan belaka, dunia hanya menawarkan masalah.

Seperti bocah kecil yang berusaha menjaring angin, semua jerih payah manusia di bawah kolong langit adalah sia-sia. Mereka hidup sebentar, lalu mati. Sebagian besar hidupnya hanya untuk mempertahankan hidup mereka, bukan menikmati hidup mereka.

Minggu, 12 Agustus 2012

RESENSI FILM

torrentsearcher.org

Youre The Apple of My Eye

“Film mungkin anugerah seni terbesar yang pernah dimiliki manusia,” nukilan dari film Janji Joni ini sekilas menjelaskan bagaimana penikmat film bisa dibuatnya berlimpah inspirasi ketika selesai menonton sebuah tayangan film.
 
Kali ini saya mau share film yang recommended buat mengisi waktu luang kalian.  Meskipun saya bukan penggemar berat drama Asia, tapi film garapan Gindenns Ko berjudul “Youre The Apple of My Eye” bisa masuk daftar prime time kalian. Bagi penggila berat drama Asia, film Taiwan bergenre drama-romantis ini mungkin sudah kalian tonton atau bahkan berkali-kali diputar. Film ini berlatar belakang kehidupan anak SMA.

Banyak pesan inspiratif yang terkandung dalam film itu. Banyak hal-hal yang tak terduga dan kejadian kocak yang disuguhkan. Semisal, tokoh utama melakukan onani di kelas. Deviasi atau penyimpangan tingkah laku yang terlalu ekstrim untuk ukuran anak SMA.

Dari segi sinematografinya, Youre The Apple of My Eye tak kalah jauh dari Hollywood. Angle-angle gambarnya variatif. Komposisinya gambarnya juga rapi sehingga enak dilihat. Latar belakang sekolah  seperti ruang kelas, halaman sekolah mendominasi setiap sequencenya.

Konflik percintaan yang disajikan cukup unik, seolah memberikan ide cerita yang segar dan fresh. Dan yang paling aku suka adalah endingnya yang cukup mengejutkan, tak mengikuti arus mainstream film-film drama romantis lain yang cenderung klise. Ada sisi kedewasaan yang diajarkan lewat isi cerita.

Film ini juga kaya akan pesan. Saya secara personal mengakui kalau film ini bisa membuat saya lebih menghargai setiap keputusan yang kita ambil.  “Tidak seperti tes, setiap soal yang rumit pasti ada jawabannya. Dalam kehidupan nyata, ada beberapa hal yang selamanya tidak ada jawabannya” kutipan film yang sangat inspiratif.

Film itu juga mengingatkanku tentang memori masa SMA, masa dimana abu-abunya dunia kita. Disanalah kita banyak belajar banyak tentang kehidupan. Kita bisa mengenal arti persahabatan, arti kedewasaan dan disanalah kita menghirup apa arti kompetisi yang sebenarnya. Di masa putih-abu abu lah tertanam angan-angan kita terhadap masa depan yang tak terbatas. Disanalah, persahabatan erat tak kenal pamrih, saling mendukung satu sama lain, saling bahu membahu dalam masa sulit.

Bagiku, masa SMA adalah pengalaman yang paling indah, di mana kita masih meraba-raba kehidupan, menjajal semuanya tak kenal batas.

“Dalam kehidupan manusia banyak hal yang tidak membuahkan hasil” petikan yang sederhana dari film Youre The Apple of My Eye, juga memberiku inspirasi bagaimana hidup yang kita jalani tak selalu menawarkan hal yang indah. Dunia tak selalu menjanjikan cantiknya pelangi ataupun cerah mentari selalu menghiasi hari-hari yang kita lalui. Kadang badai yang bergelora dan petir yang mengelegar menuntut sang pelaut lebih waspada dalam mengarungi samudra kehidupan.

Ya, terkadang kenyataan memang tak sejalan dengan harapan.. “Aku salah. Ternyata, ketika kamu sangat-sangat menyukai seorang perempuan. Ketika ada seorang yang mengasihinya, mencintainya, maka kamu benar-benar dari hati yang paling dalam mendoakan dia bahagia selamanya.” Secara pribadi, itulah quote termanis yang pernah aku baca.

Terakhir, “orang yang bisa mewujudkan mimpinya bukanlah orang yang pintar, tapi orang yang tidak pernah menyerah”. Youre The Apple of My Eye.

Sinopsis

Film ini menceritakan kisah persahabatan anak muda dalam menjalankan kisah hidupnya selama menuntut ilmu dibangku SMA. Ko Theng (Ko Chen Tung) menjadi aktor utama dalam film tersebut. Dia adalah laki-laki yang punya sifat keanak-kanakan, suka menjahili teman sekelasnya.

Ko Theng mempunyai 4 sahabat yang memiliki karakter berbeda-beda, yakni Hsu Bo Chun, sahabat karib Ko Theng sejak SMP. Uniknya, kapanpun dan dimanapun selalu ereksi. A Ho (Boboho), teman Ko Teng yang gempal. Juga ada Lao Tsao, temannya sejak SMP. Terakhir, Liao Ying Hung, suka menggaruk-garuk kemaluannya.



Seperti halnya jiwa muda, percikan-percikan asmara juga tumbuh dalam diri kelima sahabat itu. Mereka berlima  mempunyai satu persamaan, yakni menyukai seorang gadis paling teladan di kelas, Shen Chia Yi (Michelle Chen).


Tapi Shen Chia Yi lebih tertarik kepada Ko Theng, dikarenakan Ko Theng meminjamkan buku miliknya untuk Shen Chia Yi dan rela dihukum karena dianggap tidak membawa buku. Dari situlah awal kedekatan keduanya. Shen Chia Yi rela menghabiskan waktunnya untuk membantu Ko Theng yang terkenal bodoh, supaya nilai pelajarannya membaik.

3 Tahun sudah mereka lalui, banyak hal yang mereka lewati bersama-sama. Dan kisah mereka masih tetap berlanjut hingga ke perguruan tinggi dimana Ko Theng dan Shen Chia Yi terpisah. Akankah Ko Cheng yang kekanak-kanakan dapat merebut hati Shi yang dewasa? Patut kalian ketahui dengan menontonnya..


Silahkan klik link ini untuk mendownload film Youre The Apple of My Eye.

Kamis, 09 Agustus 2012

ENTAH PUISI ENTAH APA


AKU














seperti ini lah aku, kosong tanpa mu


....
....
....
....
....
....

seperti ini diriku, titik-titik mononton dominasi setiap detik








sewujud ini lah aku, hampa jiwaku nihil partikel eros

------
------
------
------
------

serupa inilah aku, datar tanpa senyum manismu

????
????
????
????
????

seperti ini lah hariku, selalu bertanya-tanya, masih ingatkah aku? 




Saya menulis "entah apa ini" sudah cukup lama. Saya ingat betul waktunya. 10 Februari 2012, pukul 23:35. Jujur saya sendiri tak tahu jenis apa ini, puisi kah? kalau puisi mana sisi seninya, nihil bahasa yang imajinya, dan kalau prosa? terlalu pendek untuk dibilang prosa, malah mirip coretan seorang anak yang baru kehilangan inspirasi hidupnya. *hening sejenak* kemudian guntur mengalahkan petir

Ya, saya kehilangan seorang yang benar-benar membuatku mengerti apa arti sebuah cinta. Saya diijinkan menikmati perasaan itu selama 
2.592.000 sekon. Terlampau singkat untuk sebuah hubungan. Tapi satu hal yang pasti, setiap detik, setiap menit, setiap waktu yang aku lewati bersamanya dulu, merupakan sesuatu yang paling mahal dan berharga yang pernah aku punya. Sampai saat ini, tersimpan rapi dalam memori. dari remang jadi siang terang



Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu, dan semoga aku menemukan inspirasi baruku, melangkah sambut esok, mentari kan terus ada..







Selasa, 07 Agustus 2012

KETUKAN PINTU


Tubuh kurusku meringkuk takut di salah satu sudut ruangan. Ruangan kecil tak berjendela, pengap sangat. Hanya ada satu pintu rapuh sebagai akses keluar masuk segala hal yang aku lakukan di dunia fana ini. Cukup sempit untuk aku tinggali. Lantainya kotor, sampah-sampah berserakan di mana-mana. Para lalat terbang berontak membenturkan tubuhnya ke tembok  sesegera ingin menghirup udara bebas, seakan sudah jengah menempatinya. Tembok-temboknya rapuh, cat putih banyak mengelupas, terlihat samar-samar berkat nyala cahaya pelita yang kugantungkan di tengah ruangan.  Tiupan angin sepoi atau mungkin sentilan jari cukup untuk meluluhlantahkan ruangan kecilku seketika.

Keringat dingin sedari tadi mengalir disekujur tubuh. Tetesan butir keingat sebiji beras merambati pelan kulitku. Tanganku mendekap erat kedua lututku, bibir tipisku bergerak membiru,mengigil. Sorot mataku terbang melesat ke arah sumber suara. Tok-Tok-Tok, Suara ketukan pintu itulah yang membuat lututku bergetar tersudut tak berdaya. Rasa takut menamparku amat keras. Kedua telinga kusumbat, alih-alih melenyapkan suara ketukan itu tetap tak berhasil. Justru semakin keras terdengar.
   
Tok-tok-tok, ketukan pintu terdengar lebih keras kali ini, tetap saja aku tak berani membukanya. Sontak, Aku  bersembunyi di bawah kolong tempat tidurku, bertemankan bantal kumal sebagai peredam kengerian yang aku alami.

Berkali-kali ketukan pintu diselingi suara memanggil namaku terekam jelas oleh indera pendengarku, tetap tak ada nyali untuk membukanya.  Aku takut sejadi-jadinya,karena mengenali betul suaranya. Dan aku yakin, yang dibalik pintu itu tak akan mengampuniku. Aku telah berhutang banyak kepadanya, tak ternilai harganya. Nyawaku sebagai tebusan pun tak cukup melunasinya. Diperparah kondisiku yang hancur, berantakan, kotor, hina, badanku penuh nanah busuk, aku sekarat.

Aku malu, jika aku mempersilahkannya masuk, yang ada dibalik pintu itu mungkin akan menertawaiku kondisiku atau bahkan mungkin akan membunuhku, karena aku dianggap orang terkutuk. Tubuh keringku ini tak berhak menerima tamu siapapun.

Tok-Tok-Tok, bunyi itu terdengar lagi, kali ini melembut. Aku merangkak keluar dari kolong, lima kali kakiku melangkah. Tangan kananku meraba daun pintu, gemetar jari-jariku mengenggam. Aku intip melalui lubang kunci pintu, wajah yang begitu familiar tertangkap lensa mata kiriku. Suara memanggil kembali terdengar dibalik pintu, terdengar bagai deruan ombak. “Nak, Tolong buka pintunya, Aku mau masuk.”

Sangat lama tubuhku membatu di depan pintu. Selama itu juga aku bermain dengan pikiran manusiaku. Apabila aku buka pintu itu, aku takut Dia akan masuk lalu tanpa ampun menjatuhi hukuman berat padaku. Jika kubuka pintunya, aku takut Dia akan mengubah alur hidupku, angan-anganku, mengubah segalanya  menjadi tak sesuai dengan yang aku inginkan. Aku cukup nyaman dengan kondisiku seperti ini, bermukim di ruangan kecil ini sendiri dan menguncinya dari dalam.

Yang dibalik pintu itu tak henti-hentinya mengetuk.  Dia  tanpa lelah dan tetap setia menunggu aku, si empunya ruangan membukakan dan mempersilahkan masuk. Kalaupun mau, yang dibalik pintu itu bisa saja mendobrak pintu dan mendapati aku. Tapi tak dilakukannya, Dia sangat sopan dan tahu betul tata krama bertamu, dia  lebih memilih bersabar  menanti aku membukakan pintu untuknya.

Suara tak kenal lelah terus menerus memanggilku sembari mengetuk pintu. Sebuah pintu reot menjadi penghalang kami satu-satunya. Akhirnya aku terketuk, mataku bersaput air, tangisku seketika meledak. Dia yang selalu aku sakiti, selalu aku lupakan, yang selalu aku pertanyakan eksistensinya, tak kusangka tetap mau bersabar menunggu aku membukakan pintu. Kembali, aku genggam daun pintu itu. Pipiku masih basah, linangan itu menderas saat aku membukanya.

Decitan suara terdengar, ku tarik pelan-pelan pintu itu kedalam.  Dia melangkah masuk ruanganku, sinar wajah-Nya menyilaukan mataku, seketika aku tersungkur mencium lantai penuh sampah. Aku merasakan ketakutan yang luar biasa, tetesan air mata tak bisa ku tahan.  Menatap wajah-Nya pun tak sanggup, aku hanya bersimpuh di kaki-Nya, meminta belas kasihan. Aku meratapi segala tindak tandukku yang menyedihkan, dengan tulus aku memohon ampun terhadap semua yang pernah aku lakukan pada masa lalu kepada-Nya.

Tetapi dia tidak menghukumku, justru Dia mengangkat tubuh rentaku, lalu memelukku erat. Suatu kehangatan yang tak pernah kurasakan hingga aku kehabisan kosakata untuk menggambarkannya. Di tubuh-Nya, jiwaku kembali dihangatkan, lalu merembet hingga ke tubuhku. Kehangatan yang  mengubah kehidupanku menjadi lebih tentram.

“Kenapa baru sekarang membukakan pintu, anakKu?“ ucap-Nya dengan tetap memeluk tubuhku.
“Aku takut Tuan, seandainya aku membuka pintu, Tuan akan membunuhku, karena aku banyak salah, banyak hutang yang tak bisa aku lunasi. Aku tak layak menerima  Engkau sebagai tamuku. Aku hina, kotor, sedangkan Tuanku tidak, Engkau suci, tak bercela. Aku juga takut, jika aku menyerahkan diriku kepada-Mu, segala hal yang aku punya ini, Tuan akan mengambil semuanya dariku,” aku berkata seadanya sembari menangis.

Dengan senyum Dia menjawab, “Ijinkan Aku tinggal disini, maka Aku akan menyembuhkanmu, Aku akan memberkatimu, Aku akan menyelamatkanmu.” Apa yang aku dengar,apa yang aku pikir, apa yang aku bayangkan , secuil pun tak dilakukan-Nya padaku.

Seketika itu aku menyadari, Dia selalu peduli tentang diriku, hanya aku yang tak pernah peduli keadaan-Nya. Sayap-Nya selalu melingkupi dari jahatnya dunia. Dia selalu ada, hanya kita yang kurang peka panggilan dan berkat-Nya. Darah-Nya yang mahal sebagai pengorbanan sejati untuk menyelamatkan duniaku dari kebinasaan.

Dan aku tak perlu kuatir lagi mengendarai dengan kecepatan penuh di jalan kehidupan, tanpa pretensi. Hidupku mencucurkan kesenangan luar biasa, kedamaian sejati karena Dia telah menjamin semuanya dalam tangan kuasa-Nya.

Akhirnya aku tersadar di ruangan kecil satu pintu itu, ruangan tak berjendela yang pengap, ruangan sempit  yang aku namakan lubuk hati. Dia menyentuh hatiku, dan tinggal selamanya di ruangan hatiku.


“Behold, I stand at the door and knock; if anyone hears My voice and opens the door, I will come in to him, and will dine with him, and he with Me.” (Rev.3:20)

OTAK KANAN (IV)


Hamparan pasir putih serta deruan ombak menyambut kedatangan kami. Pantai Sundak  menyuguhkan panorama nan anggun. karang-karang tetap berdiri tegar walau kerap  diterpa sang ombak.

Dua hari semenjak makan malam itu, Bening susah dihubungi, seakan menghilang entah ke  mana. Baru hari ini dia muncul kembali dengan packagingnya, unik, ajaib, berantakan.  Tanpa pikir panjang, aku langsung ajak dia jalan-jalan ke pantai. Hitung-hitung melepas rinduku kepada Bening dengan mengisi weekend ke pantai. Aku juga akan  berusaha membantu menghilangkan residu-residu masalah yang sedang Bening hadapi.  Berdua berjalan menyusuri tepi pantai, mencari teka-teki yang alam selalu hadirkan.
Kami seperti anak kecil, bermain pasir sesuka hati tanpa batas, menikmati setiap  sapuan ombak-obak kecil yang menghujam kaki dan tubuh kami. Puas bermesraan dengan  alam, kita berdua duduk sembari menyaksikan karya terbesar dari Sang Pencipta bernama  matahari terbenam.

"Ning,aku bahagia banget, di tempat yang pas, momennya juga pas, sama orang yang pas  pula, sempurna sudah hariku," seruku seraya menatap Bening.
Bening memanyunkan bibirnya. "Apaan sih, gak ngerti aku, btw terimakasih ya. Mau ngajak aku ke sini, the best dah tempatnya."
Aku tak mau menyiakan kesempatan lagi, perasaan indah ini harus aku bagi sama Bening  agar dia tahu, betapa tulus aku menyayanginya.
"Ning, kamu tahu gak, aku tu pengen bisa lihat kamu tertawa, bisa lihat kamu sukses,  pengen juga lihat kamu bahagia terus, pengen selalu bisa merasakan kehadiranmu,  pengen semuanya lah tentang kamu," ucapku lancar.
Bening menoleh kepadaku, semula matanya fokus menatap ke depan, seolah tak mau  kehilangan sedikitpun cahaya keemasan itu berangsur-angsur tenggelam.
Bening membuka mulutnya, sepertinya kata-kata akan terlontar dari bibir tipisnya.

"Ning...Bening !! Pulang ! ngapain Kamu di sini," suara itu terdengar keras, bagai  deruan ombak besar.
Spontan kami mencari sumber suara itu. kami berdua menoleh ke belakang.
"Ning.. Ayo pulang !" Sesosok pria bertubuh kekar berjalan menghampiri kami, sorot  matanya tajam.
Bening terperanjat, air mukanya berubah kaget, terpaku menatap laki-laki yang  menghampirinya itu. Aku merasakan ada yang ganjil dari gestur Bening. Laki-laki itu  berdiri tepat di hadapan Bening, kulihat mimik marah pada garis wajah tajam laki-laki  itu. "Ayo pulang !" teriak laki-laki itu. "Aku hanya ngijinin kamu main hanya sampai siang," tambahnya.
Laki-laki mendatangi kami tiba-tiba, seperti hantu. Aku merasa tak mengenalinya.
"Gak usah teriak Bening udah dengar kali. Jangan pakai emosi kalau sama cewek"  balasku.
Laki-laki itu terpancing emosi. "Lu gak usah ikut campur ya, ini urusan kami berdua".  Dia berjalan menghampiriku, menarik paksa bajuku. Bening berusaha menghalangi laki- laki itu, tapi tenaganya terlalu lemah untuk menahannya.
"Udah jangan ribut, kayak anak kecil saja" Bening tak menyerah untuk menahan kami.
"Emang lu siapa nglarang-larang gue, bapaknya, bodyguardnya ??" tantangku.
"Anjing! Bukan urusan lu kali," laki-laki itu tiba-tiba melayangkan tinjunya, dengan  refleks aku berhasil menghindar.
Laki-laki itu untuk kedua kalinya mencoba memukulku, kali ini keningku kena telak,  Jatuh tersungkur. Aku berdiri kembali, belum sempat mengumpulkan tenaga, dia  menendang tepat diperutku. aku mengerang kesakitan. kembali dia menendang perutku,  tapi aku berhasil menangkisnya. ku hajar dia balik. Pukulan ku bertubi-tubi mengenai  wajah dan tubuhnya seperti tak ada efeknya. Tubuh kami memang beda jauh, dia hampir  dua kali lipat lebih besar dari tubuhku.

"Sudah ! Berhenti ! jangan kayak anak kecil !" teriak Bening sambil menangis.
Aku pun menurut. Laki-laki itu mendorongku tubuhku, aku kembali terjatuh tersungkir  di pasir putih.
"Bening, jelasin tu pada ni orang, siapa aku sebenarnya" teriaknya sambil menunjuk  kearahku.
Bening kembali meneteskan air mata."Co, maafin aku, gak seharusnya aku begini. Gak  seharusnya aku nglakuin ini ke kamu." tangis Bening semakin menjadi.
"Maksudnya?", aku merasakan ada yang janggal pada diri Bening.
"Aku gak tahu mau memulainya dari mana, aku juga gak tahu harus ngomong apa, aku juga  gak mau dianggap sebagai pemberi harapan kosong," isak Bening terdengar lemah.
"Aku mau jujur sama kamu, tapi aku tak mau nyakitin kamu Co," lanjut Bening.
Keadaan di pantai seketika hening, se akan semua unsur keindahan pantai  kompak mengarah ke tiga manusia.
Bening menarik nafas, mengeluar udara yang dihirupnya pelan-pelan. "Dia Bowie  Co, pacar aku, kami balikan lagi," ucap Bening pelan sembari menghapus air matanya.

Aku tidak percaya. Hatiku merasakan perih yang tak tertahankan. Dadaku tiba-tiba  sesak, bukan karena efek tendangan laki-laki itu, tapi efek perkataan Bening.  Khayalan dan impianku yang tersimpan rapi di otak kananku tiba-tiba memudar, hilang  tak membekas sebelum menjadi kenyataan. Kedua mataku terasa panas, butiran air mata  seakan mau tumpah.

"Tapi Ning, kebersamaan kita, perhatianku sama kamu, kekonyolan kita berdua, aku  berharap kita bisa lebih dari itu Ning , selalu bersamamu" jelasku.
Bowie mendekati Bening, menenangkan dan mendekap Bening yang masih menangis. Bening  menatapku lagi. "Co, perempuan itu makhluk unik, mereka tak hanya butuh perhatian,  kasih sayang, perlindungan, Kadang dia juga butuh kepastian. Butuh penjelasan dari  hubungannya. Aku nunggu kamu nunjukin perasaan itu, tapi kamu sama sekali gak  nglakuin itu. Bening terdiam sejenak. "Satu lagi, perempuan itu tak mau menunggu lama."
"Lu sekarang udah tahu kan, siapa gue, jangan sekali-kali ganggu Bening lagi," tiba- tiba laki-laki itu menyahut.

Aku tak bisa mengatakan apa-apa lagi, aku sadar, aku yang salah di sini. Semua yang  diucapkan Bening benar. Seorang anak lelaki yang terlalu berkhayal, tak punya nyali  untuk membagi perasaannya dan akhirnya harus menerima akibat dari kebodohannya  sendiri.  Aku hanya terduduk layu menatap dua pasangan saling berdekapan itu.
"Aku bodoh, aku salah, sampai kapan pun juga gak bisa marah sama kamu. Aku hanya  tidak percaya saja sama kejadian yang aku alami ini, " aku kembali berdiri dan  menghampiri Bening. Bowie langsung pasang badan untuk melindungi Bening, ceweknya.
"Aku cuma minta kamu maafin aku, aku tahu ini rumit, tapi semuanya sudah terjadi, maaf Co,"  Bening merespon.
Aku mengangguk. "Seperti kataku tadi, aku gak bisa marah sama kamu, sampai kapan pun, aku gak bisa  benci sama kamu."
Bening tak tega melihat wajahku, dia pun menunduk dan membuang muka. "Maafin juga  kalau selama ini aku terlalu memberi harapan yang berlebih ke kamu."
"Sudah lah, yang penting kamu mengikuti kata hatimu, hatimu yang memilih dia," ucapku.
"Sesuatu kadang tidak bisa diprediksi, Ning, di mana kita yakin akan berakhir bahagia,  ternyata berbeda. Apa yang ada di otak kanan kita, di mana semua impian dan khayalan  berasal, kadang tak sejalan dengan kenyataan, di mana dunia kita hidup," balasku  seraya tersenyum, aku sendiri pun tak tahu itu senyum palsu atau senyum tulus.
Bening membisu. hanya tatapan mata yang menandakankan penyesalan.
Bowie lalu menarik tangan Bening. Bening pasrah, mengikuti kemana laki-laki itu  melangkah. aku terus menatap punggung Bening, rambut panjangnya yang dibiarkan  terurai melambai-lambai tertiup angin, mengisyaratkan perpisahan, hendak mengucapkan  selamat tinggal untuk terakhir kalinya. Aku menatap Bening sampai dia menghilang dari  pandanganku.

Aku kembali membaringkan tubuhku di hamparan pasir. melihat langit yang berubah menjadi kelabu, bulan samar-samar memperlihatkan dirinya.
Menyadari semua kesalahanku dan membagi semua perasaanku dengan pantai. perasaan sedih, bingung, tak percaya, bahagia, kesal yang kurasakan, dan tak tahu mana yang dominan. 
Dan bila aku selalu berkhayal dan bermimpi tentang dia, salahkah aku untuk terus dan terus bermimpi? ku beranikan bertanya kepada bulan.
Akhirnya aku sadar satu hal, Bening salah memanggilku colkat. seharusnya coklat punya khasiat aphrodisiac, suatu zat yang mampu memunculkan perasaan seperti orang jatuh cinta, hati berbunga-bunga. Itu yang tak ada dalam diriku.


Hari-hariku kembali seperti semula. bangun,makan, mandi, kekampus, pulang dan tidur. Sudah sebulan belakangan ini aktivitas yang kulakukan. Aku juga tak pernah lagi bertemu Bening, Meski kita sekampus. Temanku, Tama kembali mengajakku ke public space. Seperti sudah jadi kebiasaan kami, duo jomblo, tebar pesona kepada mahasiswi- mahasiswi lain.
"Arah jam 3 coy, cewek cakep abis, tipe kamu banget" aku memulai berburu.
Sepertinya cewek berjilbab jadi sesuatu yang menarik perhatian Tama.
Tama menoleh. "Bilang Assalamualaikum, 10 ribu," tantangnya.
Aku mengangguk memberi isyarat mengiyakan tantangan Tama.
Hidupku tak harus terhenti di sini. Aku harus melangkah lurus ke depan. Dan Aku sadar satu hal, manusia itu memang lemah, tapi mereka berusaha keras tak menyerah dan tetap berjuang untuk meraih kemenangan.

Banner Ad